Rabu, 07 Desember 2011

CABANG KAJIAN FILSAFAT; PROBLEM KEMANUSIAAN

Persoalan kefilsafatan merupakan persoalan yang terkait dengan manusia sebagai subjek, dalam hal ini: anggapan- anggapannya, proses pemikirannya, pengetahuannya, termasuk ungkapan- ungkapannya dari apa yang disebut sebagai pengetahuan itu.  

Dalam banyak literature disebutkan bahwa filsafat itu terdiri dari tiga cabang, yaitu Metafisika, Epistemologi, dan Aksiologi. Tiga cabang besar ini masih dibagi lagi dalam beberapa cabang yakni  Metafisika (Teologi, Kosmologi, Antropologi), Epistemologi (Logika, Filsafat Ilmu), dan Aksiologi (Etika Estetika).

Cabang- cabang filsafat ini menunjukkan variasi objek kajian filsafat sekaligus merupakan wilayah perenungan yang menarik. 

A.    Metafisika
Metafisika merupakan cabang tertua dari filsafat. Kelahirannya diawali oleh suatu ketertarikan untuk mengungkap “misteri” dibalik realitas ini. Secara istilah metefisika diambila dari kata meta yang berarti di balik dan fisika yang berarti alam fisik (dzahir), yang dalam bahasa arab dimengerti sebagai ma wara’a al- thabi’ah (apa yang ada di balik yang fisik). Maka metafisika adalah pengetahuan spekulatif filosofis tentang realitas, di mana pengetahuan spekulatif filosofis itu dimaksudkan sebagai menjangkau sesuatu di balik yang fisik.

Plato membagi dunia menjadi dua, yaitu dunia intelegible sebagai dunia hakiki dan dunia sensible sebagai dunia yang nyata yang sifatnya sementara dan tidak hakiki. Ada juga yang menyatakan bahwa sesuatu yang dimaksud dengan sesuatu dibalik yang fisik tidak lain merupakan “alam pikiran” manusia tentang alam suatu alam yang dianggap sebagai “alam itu” alam pikiran yang demikian inilah yang disebut metafisika. Pandangan ini dikemukakan oleh Aristoteles.
Kant juga berpendapat bahwa dengan akalnya, manusia tidak mungkin dapat mengetahui  “ada”nya alam itu, serta dapat menjadikannya sebagai pengetahuan. Bagi kant, masih lebih mungkin mempelajari batas- batas kemampuan rasio manusia dari pada mempelajari alam yang benar- benar lain itu.

Filsuf August Comte membagi sejarah pemikiran manusia kedalam tiga tahap, yaitu mitologi, metafisik, dan positif. Karenanya, filsafat Comte disebut positivisme. Pada zamannya, Comte menyatakan, saat ini manusia memasuki peradaban positif. Maka seiring dengan temuan- temuan dibidang fisika, seluruh sendi- sendi pengetahuan metafisik mulai dikritik dan ditinggalkan. Dalam perkembangannya, peradaban positif ini melahirkan peradaban modern di Barat dan di beberapa belahan dunia yang terhegemoni oleh barat.

Setelah lama ditinggalkan, kajian metafisika mulai diminati kembali, kesadaran kemanusiaan atas apa sebenarnya “makna hidup”, bahkan kesadaran kosmologis atas kerusakan alam sebagai akibat pola hidup modern. Seiring dengan perkembangan tersebut, apa yang dimaksud “realitas” oleh metafisika. Kemudian diberi pengertian yang lebih spesifik. Misalnya; “metafisika kesehatan” kajian ini dimaksud untuk mengungkap hakikat sehat; apa sebenarnya yang dimaksud dengan hidup yang “sehat” itu; apa criteria seseorang disebut sehat/ sakit; dimanakah sebenarnya “sumber” sakit itu; jasmani atau rohani, dan seterusnya.

Dari pemahaman sederhana ini, bisa dikatakan bahwa dewasa ini metafisika telah tampil dengan objek kajian yang lebih spesifik, meski tetap pada dasarnya, yaitu hanya melihat apa yang ada dibalik yang fisik.

B.     Epistemologi
Pemikiran metafisika sejak zaman klasik hingga abad pertengahan, telah mendorong filsuf Rene Descartes (1596- 1650) untuk memikirkan; “bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan?” “ bagaimana cara filsuf itu sampai pada kesimpulannya ?” pertanyaan inilah yang kemudian disebut dengan persoalan epistemologis.
Istilah epistemology berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme, yang berarti pengetahuan dan logos yang berarati ilmu, maka epistemology adalah ilmu tentang pengetahuan. Atau filsafat pengetahuan (philosophy of knowledge) atau teori pengetahuan (theory of knowledge). 

Secara umum bidang ini mengkaji tiga persoalan pokok, dan ini sekaligus merupakan objek formal dari epistemology, yaitu; a. apakah sumber- sumber pengetahuan itu ? dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana mengetahuinya ? b. apakah sifat dasar pengetahuan itu ? c. apakah ukurannya bahwa pengetahuan itu valid ?.

Rasionalisme yang berasal dari buah pemikiran Descartes adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetetahuan yang sejati adalah akal budi. Pengalaman hanya dapat dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah didapatkan akal budi. Metode ini bersifat deduktif.

Kemudian aliran ini mendapat reaksi dari aliran filsafat empirisisme Hume dkk yang menyatakan bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber utama pengetahuan, baik pengalaman lahiriah maupun batiniah. Akal budi bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan- bahan yang diperoleh dari pengalaman menjadi pengetahuan, metode ini bersifat induktif.

Kedua aliran ini didamaikan oleh Immanuel Kant dengan kritisismenya melihat dan memposisikan sarana rasio dan pengalaman dalam proses pengetahuan menusia. Meski demikian bukan berarti problem epistemology sudah berakhir, karena masih banyak dari para filsuf lain yang tertarik pada bidang ini, missal August Comte dengan positivismenya, Edmun Huserl dengan fenomenologinya, Francis Bacon dengan Novum Organom sebagai pengganti organon Aristoteles yang menjadi dasar perkembangan ilmu- ilmu fisika alam. 

Dari sinilah , Bacon disebut sebagai seorang perintis filsafat ilmu, selanjutnya kajian filsafat ilmu semakin mengalami perkembangan sedemikian besar sejak lahirnya suatu kelompok kajian yang disebut “lingkaran wina” di Austria. Hingga pada akhirnya diikuti oleh filsuf- filsuf lain. Seperti Karl R. Popper, Thomas, Khun, dll.

Harus diakui bahwa baik epistemology maupun filsafat ilmu, memilki sejarahnya masing- masing. Namun bisa dikatakan bahwa filsafat ilmu merupakan perkembangan lebih jauh dari epistemology.

C.    Aksiologi
Aksiologi merupakan salah satu cabang yang menyelidiki hakikat nilai, makanya disebut juga teori nilai. Ada tiga pendapat tentang hakikat nilai, pertama, pandangan yang menyatakan bahwa ‘nilai’ itu bersifat subjektif. Nilai sesuatu sangat bergantung oleh sejauh mana manusia memberikan penilaian kepada sesuatu itu.

Kedua,melihat bahwa nilai merupakan kenyataan yang terbebas dari “ruang” dan ‘waktu’. Nilai sesuatu itu ada pada dirinya sendiri. Ketiga, pandangan yang menyatakan bahwa ‘nilai’ itu bukan karena ada penglihatan manusia, juga bukan ‘ada’pada dirinya sendiri, tetapi didasarkan pada asumsi- asumsi metafisik, atau bahkan pemberitahuan dan keyakinan metafisik.

Suatu objek tertentu disebut bernilai atau tidak, hanya karena adanya ‘sentuhan’ antara objek dengan subjek. Dari hubungan antara keduanya ini aksiologi memiliki berbagai macam kajian yakni; ‘nilai intelek’, yakni nilai yang ada karena sentuhan potensi rasio manusia, ‘nilai etis’ atau ‘nilai estetis’ adalah nilai yang ada karena sentuhan potensi emosi manusia.

‘nilai’ itu pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama, nilai formal yaitu nilai yang pada dasarnya tidak ada menjadi ada karena dinuat oleh akal. Nilai berujud nilai diri seperti sebutan ‘bapak lurah’ nilai yang diberikan pada yang berhak. dan nilai turunan  seperti sebutan ‘bu lurah’ bagi seoranga wanita yang menjadi istri pemangku jabatan lurah.
Kedua, nilai material, yaitu nilai yang benar- benar nyata dan dapat dialami, baik jasmani yang dapat berujud seperti nilai hidup, nilai guna, nilai nikmat. maupun rohani yang dapat berujud seperti nilai intelek, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religi.

Begitulah, aksiologi dalam pemahamannya yang praktis tidak akan pernah terhapus dalam kajian filsafat. Meski harus diakui bahwa anak cabangnya seperti etika dan estetika lebih popular dan karenanya mendominasi kajian aksiologi.

D.    Teologi
Teologi adalah cabang filsafat, yang merupakan bagian dari kajian metafisika. Teologi merupakan pemikiran filosofis tentang ketuhanan. Hala ini sesuai dengan makna dasarnya yang berasal dar dua kata, yaitu theo yang berarti tuhan dan logi yang berarti ilmu. Jadi teologi adalah ilmu yang mempelajari hal- hal yang dikaitkan dengan tuhan. Kajian teologi secara filosofis adalah pokok- pokok agama, sebagai hal yang dikaitkan dengan tuhan. 

Kerangka pikir yang dipakai teologi adalah apa yang dikenal dengan eklektisasi antara agama dan filsafat; al- taufiq baina al- Diin wa al- Falsafah, yaitu pertemuan antara agama dan filsafat. Secara sosiologis terdapat dua kelompok, yaitu kelompok filsuf murni dan kelompok agamawan, namun pemikiran ini melahirkan kelompok ketiga yaitu teolog.

Filsuf murni adalah mereka yang dengan sarana akalnya mengkaji fenomena alamiah atau dikenal dengan ayat- ayat kauniyah. Dalam proses usuhanya itu mereka tidak berada pada bayang- bayang otoritas wahyu. Termasuk dalm kelompok ini adalah para ilmuwan (scientist). Sedang agamawan adalah mereka yang dengan kualifikasi tertentu mengkaji sumber ajaran agama, melaksanakan dan mengajarkan ajaran agama. Sementaraa teolog adalah mereka yang berusaha menemukan pertemuan antara agama dan filsafat. 

Bagi filsuf murni, teologi hanya membuat usaha rasio manusia tidak berperan secara maksimal. Sementara menurut agamawan, teologi membuat nalar keagamaan kemasukan lebih banyak unsure dari luar. Sedangkan menurut teolog, mestinya agama itu bisa dipahami secara rasional, begitu juga rasio mestinya bias dimaksimalkan untuk memahami agama. Kalupun tidak untuk memahami agama, usaha rasiopun ada batasnya, dan batasnya itu adalah agama.

E.     Kosmologi
Dalam sistematika filsafat, kosmologi merupakan bagian dari kajian metafisika. Dilihat dari kata dasarnya, kosmologi berasal dari kata kosmos yang berarti aturan, atau keseluruhan yang teratur, sebagai lawan dari chaos (kekacau- balauan). Maka sebenarnya kosmologi adalah pengetahuan filosofis tentang keteraturan alam. 

Dalam dunia kosmologi, ada beberapa pendapat tentang alam, pertama, memandang bahwa alam ini adalah suatu system yang tetap. Kedua, ala mini sebagai sebuah proses. Ketiga, alam sebagaimana manusia mengetahuinya, hakikatnya adalah konstruksi rasio manusia.

Perkembangan pemikiran tentang alam jelas membuat corak kosmologi juga mengalami perkembangan. Secara umum dapat dibedakan menjadi dua; yaitu apa yang disebut dengan kosmologi metafisik dan kosmologi empirik yang memarginalkan kosmologi metafisik. 

Namun dewasa ini sejarah pun mencatat bahwa ada kecenderungan dari kalangan ilmuwan untuk kembali ke kosmologi metafisika, ini terjadi lantaran penglihatan ilmuwan sendiri, atas kelemahan sains modern yang bertumpu pada paradigma Cartesian Newtonian dengan pandangan mekanistis terhadap alam. Alam dilihat hanya sebagai objek dan komponen- komponen yang terkait dengan relsi kausal dan kering sama sekali dari makna.

Keprihatinan atas hilangnya makna metafisik dalam melihat ala mini, membuat kajian kosmologi metafisik menarik sejumlah ilmuwan dan cendekiawan dari kalangan muslim, Seyyed Hossein Nasr menawarkan Kosmologi Islam sebgai paradigma baru dalam melihat alam. 

Jika ada kosmologi islam bisa jadi ada kosmologi Kristen, kosmologi hindu dst. Di sini semakin jelas bahwa kosmologi bukanlah alam itu sendiri, tapi pemikiran filosofis tentang alam. 

F.     Antropologi
Berasal dari kata Yunani; anthropos, yang berarti manusia. Athropologi merupakan bagian dari kajian metafisika yang membicarakan soal hakikat manusia. Dari pertanyaan hakiki tentang manusia ini, telah lahir berbagai cabang ilmu, misalnya psikologi, sosiologi dengan berbagai cabangnya, ilmu biologi, kedokteran juga dengan berbagai cabangnya. Belum lagi dari sudut pandang agama, tradisi, budaya, dll. Semua ini memperlihatkan betapa problem manusia benar- benar merupakan pembicaraan yang menarik sepanjang zaman.

Dalam sejarah filasafat, pembicaraan manusia sudah dimulai sejak filsuf Socrates, lalu diikuti oleh Plato yang mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk jasmani yang ‘kasar’ sekaligus makhluk rohani yang dapat bertransendensi, kemudian Aristoteles, hingga pada akhirnya pendapat Aristoteles ini mempengaruhi aliran Rasionalisme dengan metode a priori yaitu kesadaran umum yang merupakan bawaan manusia. Tapi memperoleh respon dari aliran Empirisisme dengan metode a posteriori yang mengatakan bahwa hakikat manusia itu adalah kepekaan menangkap kesan. Kemudian keduanya ini didamaikan oleh Immanuel Kant yang mengakui bahwa hakikat manusia itu baik a priori (pikiran) maupun a posteriori (Inderanya).

Kajian soal manusia juga dilakukan oleh Sigmund Freud dengan Psikoanalisanya. Menurutnya, inti manusia adalah jiwanya. Dan jiwa itu terdiri dari tiga, yaitu id  (nafsu yang agresif), ego (jiwa manusia yang bertugas memberi pertimbangan), super ego (semacam seperangkat kaidah atau cita- cita, yang secara bawah sadar ‘otomatis’ menunjuk bagaimana potensi itu mesti tampil).

Berbagai pendapat tentang manusia ternyata belum semuanya terungkap. Sampai hari ini, diskusi mengenai manusia juga terus berlangsung. Maka ditemukanlah teori tentang IQ (kecerdasan intelegensi) EQ (kecerdasan emosi) SQ (kecerdasan spiritual). Begitulah para filsuf membicarakan mengenai manusia.

G.    Logika
logika merupakan bagian dari kajian epistemology, yaitu cabang filsafat yang membicarakan pengetahuan. Ia bias dikatakan ruh filsafat. Dalam kajian ini, pengetahuan disebut benar jika ia diperoleh melaui cara- cara yang bertanggung jawab dan menunjukkan adanya kesesuaian dengan realita serta bias diterima oleh akal sehat.

Dalam proses pengetahuan, logika berperan pada posisi yang pertama, yaitu sebagai jalan atau cara yang sehat untk memperoleh pengetahuan yang benar. Dalam sejarah perkembangannya, ilmu logika mengenal dua istilah yaitu logika tradisional dan logika modern. Logika tradisional adalah logika yang menekankan pada anlisis bahasa, bercorak deduktif, dan secara historis memang temuan filsuf klasik. Sedang logika modern merupakan modifikasi dan revisi oleh filsuf zaman modern, bercorak induktif dan diperkaya dengan symbol matematis, meski masalah bahasa tetap tidak ditinggalkan.

Karena bagi logika, bahasa adalah symbol dari pemikiran dan apa yang dipikirkan manusia bias disimbolkan dengan bahasa. Itulah mengapa logika mempunyai kedekatan dengan ilmu bahasa. Dalam logika, orang disebut mengetahui jika ia bias mem-bahasa-kan atau menunjukkannya dengan sarana bahasa sebagai simbolnya. 

Symbol minimal dari pengetahuan manusia itu adalah apa yang disebut dengan proposi (kalimat yang sempurna, yang mana kalimat itu mengandung makna benar atau salah). kriteria benar atau salah ada dua ukuran; pertama, dilihat dari ada tidaknya pertentangan dalam kalimat itu sendiri. Missal; jambu adalah sejenis buah- buahan. Kalimat ini benar, karena tidak ada pertentangan dalam kalimat itu sendiri. Lain jika dinyatakan; jambu adalah sejenis mamalia. Proposi yang demikian ini disebut proposi a priori. Disebut demikian karena benar- salahnya sudah ketahuan tanpa membuktikan di lapangan.

Ukuran kedua, dilihat dari ada- tidaknya kesesuaian dengan dengan kenyataan. Missal; keals ini bersih. Kalimat ini mengandung kebenaran jika memang kenyataannya demikian, begitu sebaliknya. Inilah yang disebut proposi a posteriori yaitu proposi yang benar- salahnya itu baru diketahui setelah membuktikan di lapangan. 

Pada prakteknya, logika sebenarnya tidak hanya menggunakan sarana rasio, tetapi juga imajinasi yang mengajak kita melalang buanakan pikiran rasio kita, sampai melakukan lompatan berpikir. Bagi logika, adanya lompatan berpikir ini yang disebut ilmiah. Logika juga mengenakan metode silogisme yang terdiri dari tiga proposi yaitu premis mayor, premis minor dan kesimpulan. 

Begitulah logika memang mempermudah kita dengan memberikan aturan- aturan berpikir.

H.    Filsafat Ilmu
Secara umum Filasafat Ilmu dapat dipahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis ilmu pengetahuan. 

Sebagai disiplin ilmu karena filsafat ilmu juga merupakan cabang dari ilmu filsafat, maka mempelajari filsafat ilmu sama saja mempelajari secara filosofis berbagai hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan.

Sebagai landasan filosofis bagi ilmu pengetahuan, karena sepanjang sejarah perkembangan ilmu dalam struktur bangunan keilmuan tidak bias disangsikan, karena ia merupakan landasan filosofis bagi tegaknya suatu ilmu. 

Filsafat ilmu menawarkan banyak pola pikir dengan memperhatikan kondisi objek dan subjek ilmu, bahkan pola piker logika sebagai bagian didalamnya. Filsafat ilmu tidak hanya sebagai sarana (instrument) atau kerangka dalam proses penggalian ilmu, tetapi juga memberikan kerangka pada taraf pra dan post kegiatan keilmuan. Karena itulah, sebagai landasan filosofis dari ilmu pengetahuan, filsafat ilmu memberikan kerangka bagi ilmu, sekaligus menentukan corak keilmuan, bahkan konsekuensi logis dan sosiologis.

Menurut sejarahnya, pada awalnya yang dimaksud dengan filsafat ilmu adalah filsafat sains. Namun seiring dengan proses kelahiran ilmu- ilmu, sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat ilmu memiliki objek kajian yang cukup luas, yaitu natural science dan social science sampai yang tergolong dalam ilmu humanities, termasuk ilmu- ilmu keagamaan dan kebahasaan. Dilthey menyebutnya dengan Cultural historical science.

Sementara itu sebagai mana skema Jurgen habermas, bahwa ilmu pengetahuan itu terdiri dari; ilmu empiris analitis (ilmu alam, ilmu psikologis, ilmu hukum), ilmu historis hemeneutis (ilmu agama, filsafat, bahasa, sastra, kebudayaan), ilmu social kritis (ilmu politik, ekonomi, sosiologi), kesemuanya ini menjadi objek dari disiplin filsafat ilmu.

Dalam pandangan filsafat ilmu, proses dan hasil keilmuan pada jenis ilmu apapun, sangat ditentukan oleh landasan filosofis yang mendasarinya, landasan filosofis yang dimaksud adalah asumsi dasar, paradigma, dan kerangka teori.

Ilmu lahir dari kerangka teori (theoretical framework), sementara kerangka teori lahir dari paradigma, begitu pula paradigm lahir dari asumsi yang mendasarinya.

Asumsi dasar proses keilmuan diidentifikasi oleh filsafat ilmu menjadi beberapa aliran pemikiran, yang meliputi; Rasionalisme, Empirisisme, Kritisisme, Intuisisme. Sementara paradigma keilmuan meliputi; positivisme, pospositivisme, konstruktifisme, dan teori kritis.

I.       Etika
Etika adalah kajian filsafat yang terkait dengan persoalan nilai moral perilaku manusia. Etika merupakan bagian dari kajian aksiologi. Nilai moral adalah kualitas perilaku baik dari manusia. Dalam islam dikenal akhlaq. 

Ada dua macam kajian etika, yaitu; Etika deskriptif (etika yang terlibat analitis kritis tentang sikap perilaku manusia dan apa yang ingin dicapai dalma hidup). Etika normative (berusaha menetapkan berbagai sikap dan perilaku ideal yang seharusnya dimiliki dan dijalankan manusia serta tindakan apa yang seharusnya diambil untuk menggapai sesuatu yang bernilai dalam hidup ini).

Dalam etika, perilaku manusia dapat dibedakan dari dua sudut pandang, yaitu; perilaku yang dilihat dari sudut tujuannya (teleologis). Dan perilaku yang dilihat dari sudut prosesnya (deontologis). Secara sederhana bias dikatakan, dua hal inilah yang menjadi ukuran baik-tidaknya akhlaq seseorang.

Dalam pandangan tentang etika, Plato dan pengikutnya memiliki konsep  idealisme transenden (tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan yang hakiki, kebaikan yang ideal), ada juga yang berpendapat bahwa tujuan baik itu bukanlah tujuan ideal yang baru bias dirasakan nanti di alam sana, tetapi kesenangan yang mesti bias dirasakan sekarang ini, di dunia ini. Pemikiran ini dikenal dengan etika hedonisme. 

Ada yang memahami kesenangan itu jika dicapai sesuatu yang meteriil. Ini disebut dengan hedonism materiil. Ada lagi yang memahami kesenangan jiwa itu sebagaimana dirasakan oleh jiwa. Ini disebut hedonism psikis. Bahkan ada juga yang memahami kesenangan, jika sebuah penderitaan telah dialami. Ini dasar- dasarnya ada pada pemikiran kaum stoic, maka disebut stoisisme. 

Ada juga yang mengatakan, yang dimaksud tujuan yang baik itu ketika diraihnya banyak manfaat bagi kehidupan dan tidak membawa madlarat. Ini dikenal dengan utilitarisme. Filsuf yang berpaham ini adalah jeremi Bentham. 

Ada yang mengatakan suatu perbuatan disebut baik jika perbuatan itu dijalankan sebagai keniscayaan objektif atas tata aturan moral yang berasal dari tuhan, itulah yang disebut etika metafisik teologis atau etika religius. Diikuti oleh al-Ghozali, Ibn Miskawaih dan filsuf dari kalangan teolog. Selanjutnya berupa tata aturan moral yang berasal dari hokum rasio, itulah yang disebut etika metafisik- rasionalis. Filsuf Christian Wolff bias dimasukkan di dalamnya.

Pendapat ini kemudian ditentang oleh para filsuf empiris, david hume berpendapat bahwa perbuatan baik tidak perlu menunggu tata aturan yang objektif, tetapi sejauh pengalaman merasakan baik, termasuk di dalamnya adalah tindakan spontan.

Immanuel Kant berusaha mempertemukan dan mencoba menelusuri bagaimana manusia bisa mengetahui hokum umum yang objektif itu. Menurutnya, itu tidak lain adalah hasil konstruksi rasio manusia. Kant memperlihatkan bahwa sumber perbuatan moral manusia yang berupa bentuk perbuatan itu tampil sebagai perintah dalam kesadaran manusia. Perintah itu tampil dalam dua cara, subjektif dan objektif.

Cara subjektif adalah aturan pokok bagi perbuatan individu, sedangkan cara objektif berupa perintah yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan.

J.      Estetika
Estetika adalah bagian dari kajian filsafat yang membahas tentang nilai keindahan. Ada lima pendapat tentang nilai keindahan, yaitu; pertama, ada yang berpendapat bahwa nilai keindahan itu karena memang objek itu sendiri indah. Kedua, nilai indah itu sebenarnya ungkapan perasaan atau bersifat subjektif- psikologis. Ketiga, nilai indah itu merupakan kenikmatan yang diobjektivikasikan, tetap hanya dalam angan- angan, dikenal dengan subjektif- empiris, jika tidak dialami. Keempat, nilai indah itu adalah nilai suatu keberhasilan dari suatu proses pengalaman yang panjang dikenal dengan subjektif experience. Kelima, nilai indah itu terkait dengan pertimbangan metafisik atau teologis religius. Dikenal dengan estetika objektif metafisik atau estetika spiritualis. 

Dalam kajian estetika ini, ditemukan beberapa aliran seni sebagai wujud ekspresi terhadap keindahan, yaitu; aliran naturalis (bentuk seni yang menekankan pada ekspresi alamiah). Aliran tradisional (ekspresi seni yang menekankan pada konservasi budaya dan tradisi yang bercorak spiritualis). Aliran modern (bentuk seni sebagai ekspresi keagamaan, baik aspek spiritual religius maupun tradisional salafiyah).  Tidak menutup kemungkinan masih ada lagi pendapat yang lain, ini menunjukkan betapa keindahan itu merupakan persoalan yang menarik dan tidak sederhana
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar